Bismillah kata bermula
Assalamu’alaikum sambutan dibuka
Silaturahmi di Birayang kita bersama
Terima kasih pada Kai Ahim beserta Keluarga
Bismillah Alhamdulillah
Hamdan katsiran thoyiban mubarokan fihi
Mubarakan alaihi kama yuhibbu robbuna wayardha
Amma ba’du
Kayuh biduk menyusur muara
Air tenang memantul bulan
Berbeda suku tetap bersaudara
Rukun beriring jalan sehaluan
Hadirin yang Ulun muliakan,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kita dapat berkumpul untuk meresmikan Rumah Adat Banjar Tangga Keramat 159.
Bagi Kesultanan Banjar, sebuah rumah adat bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah lambang jati diri, tempat budaya dipelihara, dan nilai-nilai spiritual serta kemanusiaan diwariskan.
Pergi ke hulu memukat ikan
Ikan didapat di dalam raga
Rumah adat kita resmikan
Warisan leluhur selalu dijaga
Hadirin yang Ulun hormati,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Khairunnasi anfa’uhum linnas”
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
(HR Ath- Thabrani)
Hadis yang mulia ini mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari kedudukan ataupun hartanya, melainkan dari sebesar apa manfaat yang ia berikan kepada sesama. Atas dasar itulah, Kesultanan Banjar menyampaikan penghargaan dan rasa hormat setinggi-tingginya kepada Kai Ahim beserta keluarga besar Pengobatan Alternatif Minyak Waras Borneo.
Kada semua orang diberikan kesempatan gasan mengabdikan dirinya demi kepentingan masyarakat. Tidak semua orang membuka pintu bagi mereka yang datang dengan harapan akan kesembuhan. Apa yang dilakukan Kai Ahim adalah sebuah bentuk pengabdian yang patut dihargai. Kami melihat bahwa tempat ini dibangun bukan semata-mata sebagai tempat berobat, tetapi sebagai tempat menumbuhkan harapan, menguatkan semangat hidup, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama.
Kesultanan Banjar mendoakan semoga Allah Subhana Wa Ta’ala senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, keberkahan umur, serta menjadikan setiap langkah pengabdian Kai Ahim sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Pantun gasan Kai Ahim:
Menanam padi di tengah sawah
Padi menguning harum baunya
Kai Ahim menebar tuah
Minyak waras nyata manfaatnya
Namun, perlu kita yakini bahwa setiap pengobatan hanyalah ikhtiar manusia. Kesembuhan yang hakiki hanyalah datang dari Allah SWT, sesuai firman-Nya dalam QS As-Syura ayat 80:
“Wa idza maridhtu fahuwa yasyfin”
“Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.”
Hadirin yang Ulun hormati,
Banua Banjar ini adalah rumah kita bersama. Banjar, Dayak, dan suku lainnya hidup berdampingan sebagai anugerah Allah SWT. Izinkan Ulun menegaskan: Banjar dan Dayak bukanlah dua sejarah yabg berjalan sendiri-sendiri. Kita adalah dua dahan satu akar yang tumbuh pada tanah yang satu yaitu Pulau Kalimantan.
Elok nian si burung Nuri
Terbang hinggap di pohon jati
Banjar Dayak teguh berdiri
Seiring jalan seiring hati
Sebagai penutup, marilah kita pegang teguh semboyan Kesultanan Banjar:
“Baiman, Bauntung, Batuah”
Mari kita menjadi masyarakat yang baiman yaitu melaksanakan kehidupan yang agamis, selalu bertaqwa kepada kepada Allah menjaga hubungan hablum minalah dan hablum minannas, Bauntung yaitu sejahtera berkecukupan lahir batin, Batuah yaitu kehidupan kita membawa keberkahan bagi keluarga masyarakat dan Banua.
Burung Anggang terbang tinggi
Perlambang kesetiaan dan mengayomi
Harmonis hidup pendatang dan Dayak asli
Menjalani kodrat berlapang hati
Rumah Banjar bubungan tinggi
Rumah adat keramat berkayu besi
Baiman hati bauntung diri
Batuah Banua anugrah Ilahi Robbi
Semoga Allah SWT memberkahi setiap langkah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
